semburat senumm, mendatang dalam mimpi biru
tentang mimpi itu kau yang yang lelap tanpa bayang ada
tentang itu, ketika kaumengecup bibirku sebagai tanda terakhir kau mati.
aku dan tentang waktu itu.
Senin, 18 Oktober 2010
Kamis, 16 September 2010
Jumat, 16 Juli 2010
Gemuruh
dari telinga kiri, angin yang kencang
bergumpal awan hitam
kemilau yang sesekali menyambar dengan suara besar,
mataku, mata hari, atau matamu
yang kuramal dalam mimpi, jajaran nisan.
gemuruh datang menyapaku
hanya kunang-kunang, kado itu
dan rintik air mata, tak ada lagi dzikir
semua bisu, malaikat terbelenggu
dan di manakah tuhan?
hanya pencarian air hujan
debu terhapus, riam menyapu
dan aku dimana?
hanya arus yang penuh dengan karang
deras terhempas, hanyut menepi
hanya kelokan, ada terarah
selamat atau tertanam?
tuhan ada di mana?
hanya desah, khayalan itu.
bergumpal awan hitam
kemilau yang sesekali menyambar dengan suara besar,
mataku, mata hari, atau matamu
yang kuramal dalam mimpi, jajaran nisan.
gemuruh datang menyapaku
hanya kunang-kunang, kado itu
dan rintik air mata, tak ada lagi dzikir
semua bisu, malaikat terbelenggu
dan di manakah tuhan?
hanya pencarian air hujan
debu terhapus, riam menyapu
dan aku dimana?
hanya arus yang penuh dengan karang
deras terhempas, hanyut menepi
hanya kelokan, ada terarah
selamat atau tertanam?
tuhan ada di mana?
hanya desah, khayalan itu.
Selasa, 15 Juni 2010
angin candi
-yang ku cari dari mu-
hanya sosok belur yang menghijau lelumutan
tak sedikitpun relung dindingmu jatuh dari hati ini
menyesat jauh dalam fragmen relief, dan hujan menerpa
seperti hari kemaren, kau memelukku, menciumku
teramat sangat, dan bias hari ini.
hanya sosok belur yang menghijau lelumutan
tak sedikitpun relung dindingmu jatuh dari hati ini
menyesat jauh dalam fragmen relief, dan hujan menerpa
seperti hari kemaren, kau memelukku, menciumku
teramat sangat, dan bias hari ini.
Jumat, 14 Mei 2010
Personal
dengan bibirmu, mimpiku mengecup segala helai bidadari menyengat dan menyesat
lewat sintemen bibirmu aku ocehkan segala kata carut dan marut
kita perang dalam air bibirmu dan bibirku mengeces dan berkecup
gemulai bibirmu mengundang sahwat para pelawan pahala
lelap dan gelap menghampiri relung benih yang keruh
lelap dan gelap bartautan dalam histeris blues
hahahaha...........
yang kau kirim lewat sms
personal sahwatku.
lewat sintemen bibirmu aku ocehkan segala kata carut dan marut
kita perang dalam air bibirmu dan bibirku mengeces dan berkecup
gemulai bibirmu mengundang sahwat para pelawan pahala
lelap dan gelap menghampiri relung benih yang keruh
lelap dan gelap bartautan dalam histeris blues
hahahaha...........
yang kau kirim lewat sms
personal sahwatku.
Kamis, 22 April 2010
Lentera Sang Bingkai
yang tertata rapi di atas lemari masa lalu
membeku buram bak bias cinta kita,
putus karna kesalahan.
yeng berjajar di selah mataku
dia, dia yang lelap kecut bak mataku mataku yang semakin rabun
tua karna waktu
yang menepis, yang bekam, bahkan mendengkur
karna tervonis alam tentang kau dan aku terbatas garis hati
hanya bingkai yang kusiapkan dari photo kita
lalu, kini...
"Perpisahan."
itulah yang kuteriakan
sang bingkai album kelanaku....
Alek Brawijaya
sekayu, 2010
membeku buram bak bias cinta kita,
putus karna kesalahan.
yeng berjajar di selah mataku
dia, dia yang lelap kecut bak mataku mataku yang semakin rabun
tua karna waktu
yang menepis, yang bekam, bahkan mendengkur
karna tervonis alam tentang kau dan aku terbatas garis hati
hanya bingkai yang kusiapkan dari photo kita
lalu, kini...
"Perpisahan."
itulah yang kuteriakan
sang bingkai album kelanaku....
Alek Brawijaya
sekayu, 2010
Senin, 05 April 2010
Luka Masa Lalu
Langganan:
Postingan (Atom)
