Jumat, 14 Mei 2010

Personal

dengan bibirmu, mimpiku mengecup segala helai bidadari menyengat dan menyesat
lewat sintemen bibirmu aku ocehkan segala kata carut dan marut
kita perang dalam air bibirmu dan bibirku mengeces dan berkecup

gemulai bibirmu mengundang sahwat para pelawan pahala

lelap dan gelap menghampiri relung benih yang keruh
lelap dan gelap bartautan dalam histeris blues

hahahaha...........
yang kau kirim lewat sms
personal sahwatku.

Kamis, 22 April 2010

Lentera Sang Bingkai

yang tertata rapi di atas lemari masa lalu
membeku buram bak bias cinta kita,
putus karna kesalahan.

yeng berjajar di selah mataku
dia, dia yang lelap kecut bak mataku mataku yang semakin rabun
tua karna waktu

yang menepis, yang bekam, bahkan mendengkur
karna tervonis alam tentang kau dan aku terbatas garis hati

hanya bingkai yang kusiapkan dari photo kita
lalu, kini...

"Perpisahan."

itulah yang kuteriakan

sang bingkai album kelanaku....

Alek Brawijaya
sekayu, 2010

Senin, 05 April 2010

Luka Masa Lalu


jarijari terik matahari lelap bak temaram
pelana melembab kabut sembilu
luka menggores debu dan mengental dendam
dalam lugu yang berdiri rapuh

sayatan fragmen awan

Sabtu, 03 April 2010

Bekam


lelah,
matahari telah disemai oleh gelasgelas awan hitam yang pecah dan derai di dalam-Nya.

Alek Brawijaya wish all better
2010, sekayu

Minggu, 28 Maret 2010

Seperti Dewa


seprti dewa menunggu perintah
menelan setiap sudutsudut pojok
gerah dan pasrah, hanya takdir.....

seperti dewa yang merencanakan wahyu
tanpa doa dan tindakan sesembah
terserah dan sudahlah

seperti dewa hidup dalam kesendirian
layu dan sayu

seperti dewa........

Alek Brawijaya, Maret 2@1@
Sekayu.....

Rabu, 24 Maret 2010

Munafik



kerlingan gelang yang menghiasi kakinya
menyeret segelintir jejak yang tak tahu induk

Sekayu,
Alek Brawijaya..2010

Sabtu, 13 Maret 2010

Senandung Mimpi



di batas mata yang penuh dengan doa
menghujat gambar afoerisma
melukis mata air

ricikricik bergema halus setulus dzikir suci
peminta dan pemberi bermain dawai alam
melenting suara angin tenang laksana ku brdiri dalam soraga-nya
dan malaikat menghadirkan seribu bidadari yang membawa cadar ta'aruf-Nya

hah, terlalu deras telaga mimpi ini
kutahu sulit dan akan panjang perjalanan ini
sedangkan mata ini sayu dan hampa
tak ada puncaknya sama sekali